Rabu, 12 Oktober 2011
Senin, 13 Desember 2010
PROPOSAL SKRIPSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk paling mulia yang diciptakan oleh Allah SWT, yang berbeda dari makhluk lain. Perbedaan tersebut karena manusia diciptakan dengan berbagai potensi yang melebihi makhluk lain, seperti yang terdapat dalam surat Asy syam 19/8 berikut :
Artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
Islam adalah syariat Allah yang diturunkan kepada umat manusia di muka bumi agar dapat beribadah kepadanya. Pendidikan Islam merupakan kebutuhan manusia, karena sebagai makhluk pedagogis manusia dilahirkan dengan membawa potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi.
Akal merupakan salah satu potensi yang diberikan Allah kepada manusia dan merupakan pembeda dengan makhluk lainnya. Oleh karena itulah manusia menjadi makhluk yang paling mulia di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Isra: 70
Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al-Isra: 70)
Manusia sebagai makhluk yang paling mulia sebagaimana tersebut tidak akan menjadi mulia begitu saja, akan tetapi harus ada yang membina, memimpin dan mengarahkannya. Perbuatan itu adalah proses belajar dalam suatu lembaga pendidikan.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi di dalam satu situasi, bahkan dalam satu ruang hampa. Situasi belajar ini ditandai dengan motif- motif yang ditetapkan dan diterima oleh siswa. Terkadang satu proses belajar tidak dapat mencapai hasil maksimal disebabkan karena ketiadaan kekuatan yang mendorong ( motivasi ).
Dari proses belajar mengajar ini akan diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut hasil pengajaran, atau dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar.
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dalam proses tersebut siswa tidak hanya sekedar menerima dan menyerap informasi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa dapat melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran dan tindakan paedadogis yang harus dilakukan, agar hasil belajarnya lebih baik dan sempurna. Dari proses pembelajaran tersebut siswa dapat menghasilkan suatu perubahan yang bertahap dalam dirinya, baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan tersebut terlihat dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru.
Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat besar peranannya terhadap prestasi belajar. Karena dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Bagi siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan motivasi, sebab hasil belajar itu akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Karenanya, bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini bukanlah semata-mata kesalahan siswa, tetapi mungkin saja guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa.
Perhatian siswa terhadap stimulus belajar dapat diwujudkan melalui beberapa cara seperti penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan pertanyaan kepada siswa, membuat variasi belajar pada siswa, melakukan pengulangan informasi yang berbeda dengan cara sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk lain sehingga siswa tidak bosan. Dan ada beberapa motivasi yang digunakan guru terhadap bahan pelajaran agar siswa tidak merasa bosan, seperti : memberikan hadiah, pujian, gerakan tubuh, memberikan angka atau penilaian, memberikan tugas dan hukuman. Motivasi yang kuat dalam diri siswa akan meningkatkan minat, kemauan dan semangat yang tinggi dalam belajar, karena antara motivasi dan semangat belajar mempunyai hubungan yang erat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sardiman A.M dalam bukunya Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar bahwa :
"Dalam kegiatan belajar, maka motivasi menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai."
Motivasi sangat berperan dalam belajar, dengan motivasi inilah siswa menjadi tekun dalam proses belajar mengajar, dan dengan motivasi itu pula kualitas hasil belajar siswa dapat diwujudkan dengan baik. Siswa yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas akan tekun dan berhasil dalam belajarnya.
Tingginya motivasi dalam belajar berhubungan dengan tingginya prestasi belajar. Bahkan pada saat ini kaitan antara motivasi dengan perolehan dan atau prestasi tidak hanya dalam belajar.
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari, bahwa idealnya siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi pada bidang studi Pendidikan Agama Islam akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi, sedangkan siswa yang mempunyai motivasi yang kurang pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka prestasi belajarnya akan rendah atau kurang. Namun dari hasil wawancara penulis dengan guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, terdapat siswa yang motivasinya tinggi pada bidang studi Pendidikan Agama Islam akan tetapi prestasi belajarnya masih tergolong rendah.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul : "HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Studi Kasus pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon)".
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
a. Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian dalam proposal skripsi ini adalah tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan empirik berdasarkan pengamatan di lapangan.
c. Jenis Masalah
Jenis masalah dalam penelitian ini adalah korelasional, yaitu hubungan antara motivasi siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari, dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
2. Pembatasan Masalah
Agar masalah dalam penelitian ini tidak menyimpang dari apa yang diteliti, maka penulis membatasi penelitian ini pada masalah: Hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam ( Studi Kasus pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon).
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, rumusan masalah yang diteliti adalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah motivasi siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
b. Bagaimanakah prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
c. Bagaimanakah hubungan antara motivasi siswa dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk memperoleh data tentang motivasi siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
b. Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
c. Untuk memperoleh data tentang hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
D. Kerangka Pemikiran
Pendidikan Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam. (Kurikulum PAI, 3 : 2003).
Azizy (2002) mengemukakan bahwa esensi pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai, pengetahuan, dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda agar generasi muda mampu hidup. Oleh karena itu, ketika kita menyebut pendididkan Islam, maka akan mencakup dua hal yaitu:
a. Mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam.
b. Mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam – subjek berupa pengetahuan tentang ajaran Islam.
Mata pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup al-Qur’an dan al-Hadits, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).
Mengajar merupakan suatu kegiatan inti dalam proses pendidikan di sekolah, dalam kegiatannya tidak terlepas dari kegiatan belajar yang dikenal dengan istilah lain proses belajar mengajar.
Keterangan tersebut diatas, sesuai dengan pendapat Muhammad Ali (1987 : 1 ), bahwa :
“ Inti dari pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pembelajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu, mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga dalam peristilahan kependidikan kita mengenal ungkapan belajar atau disingkat dengan KBM”.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, termasuk pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah dan madrasah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai peserta didik.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar.
Dari proses belajar mengajar terlebih dahulu harus adanya motivasi di dalam diri peserta didik sehingga dari motivasi yang tinggi tersebut akan memperoleh hasil atau prestasi belajar yang tinggi pula.
Menurut Mc. Donald, yang di kutip oleh Sardiman. A.M motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Supardi dan Syaiful Anwar (2002) mengartikan motivasi adalah keadaan dalam diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Sedangkan menurut Hamzah. B. Uno motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Atau dengan kata lain motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu. Motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang di inginkan dapat tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perananannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi belajar suatu mata pelajaran tertentu. Selain itu juga motivasi berfungsi untuk mendorong manusia untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, untuk mencapai tujuan dan menyeleksi perbuatan yakni perbuatan mana yang akan dikerjakan.
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dalam hal ini perilaku belajar yang terjadi dalam suatu interaksi belajar-mengajar dalam mencapai tujuan dan hasil belajar. Motivasi mempunyai karakteristik : (1) sebagai hasil dari kebutuhan, (2) terarah kepada suatu tujuan, (3) menopang perilaku. Motivasi dapat dijadikan dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku seseorang. Motif timbul timbul karena adanya kebutuhan yang mendorong individu untuk melakukan tindakan yang terarah kepada suatu tujuan.
Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka motivasi belajar siswa memiliki kaitan yang sangat erat dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Hal ini menjadi pendorong bagi siswa dalam proses belajar mengajar pada bidang studi tertentu guna tercapainya tujuan yang diinginkan.
E. Langkah-langkah Penelitian
1. Menentukan Sumber Data
a. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui sejumlah buku dan literature lainnya yang ada hubungannya dengan judul skripsi, yaitu prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk dijadikan rujukan.
b. Data Primer
Data primer diperoleh melalui Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan staf tata usaha disamping itu pula siswa, book raport, Observasi, wawancara, studi dokumentasi dan penyebaran angket motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon ada 800 siswa, terdiri dari kelas VII = 285 siswa, kelas VIII = 270 siswa dan kelas IX = 245 siswa.
b. Sampel
Dari jumlah seluruh siswa yang ada peneliti mengambil sampel 10 % dari jumlah siswa untuk dijadikan sampel, dengan demikian, maka sampelnya adalah 80 orang siswa. Pedoman mengambil sampel merujuk pendapat Suharsimi Arikunto (1989 : 52), yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjek kurang dari 100 maka dapat diambil semua sehingga sampelnya totalitas. Selanjutnya jika subjeknya itu lebih dari 100 dapat diambil 10% - 15% atau 20% - 25% tergantung kemampuan peneliti, agar lebih mudah dalam menghitung jawaban responden.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Teknik observasi dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data fisik dan non fisik, yaitu tentang motivasi dan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon.
b. Wawancara
Teknik Wawancara dilakukan dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan responden, seperti Kepala Sekolah, guru agama, guru-guru, siswa dan staf tata usaha.
c. Studi Dokumentasi
Teknik studi dokumentasi dilakukan dengan mencatat peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk dokumen seperti keadaan guru-guru, siswa dan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ditempuh melalui staf tata usaha dan guru-guru terutama guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
d. Angket
Teknik angket dilakukan dengan menyebarkan daftar pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia, diberikan kepada 80 siswa sebagai responden.
4. Teknik Analisis Data
a. Analisis Kualitatif
Untuk jenis data kualitatif yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dianalisis dengan menggunakan kualitatif. Yaitu dilakukan dengan mencatat peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk dokumen seperti keadaan guru-guru, siswa dan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Analisis Kuantitatif
Untuk jenis data kuantitatif yang diperoleh melalui penyebaran angket dianalisis dengan mengggunakan metode kuantitatif. Yaitu tentang motivasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
Untuk mengolah data dari tabel hasil angket dalam bab IV, penulis menggunakan rumus prosentase sebagai berikut :
Keterangan : P = Prosentase kemungkinan jawaban
F = Frekuensi jawaban responden
N = Jumlah responden
100% = Bilangan tetap ( Anas Sudijono, 2004 : 43 )
Sedangkan untuk menghitung atau menilai besar kecilnya perhitungan skala prosentase digunakan ketentuan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto ( 2000 : 52 ), yaitu :
No Prosentase Kriteria
1 75% - 100% Baik
2 55% - 74% Cukup
3 40% - 54% Kurang baik
4 0% - 39% Tidak sekali
Setelah diketahui besar kecilnya skala prosentase kemudian diadakan penilaian sikap dengan bobot nilai dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jawaban a (baik sekali) dengan skor = 3
2. Jawaban b (baik) dengan skor = 2
3. Jawaban c (sedang) dengan skor = 1
4. Jawaban d (tidak baik) dengan skor = 0
Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut :
Keterangan :
rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment
Σxy = Jumlah hasil perkalian antara X dan Y
Σx2 = Jumlah skor X setelah terlebih dahulu dikuadratkan
Σy2 = Jumlah skor Y setelah terlebih dahulu dikuadratkan
( Suharsimi Arikunto, 1998 : 256 )
Dari hasil perhitungan korelasi diatas, maka diinterpretasikan dengan menggunakan ketentuan sebagai berikut :
Tabel Interpretasi Nilai "r"
Besarnya “r” Product Moment Interpretasi
0,00 – 0,199 Antara variabel X dan variabel Y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi tersebut diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan Y)
0,20 - 0,399 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah
0,40 - 0,599 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup
0,60 - 0,799 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi
0,80 - 1,000 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi.
(Sugiyono, 2007 : 184 )
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 2004, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta.
Imran, 1996, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Pustaka Jaya.
Majid, Abdul, dkk., 2005, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi : (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Nasution, 2004, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara.
Rahman, Shaleh, Abdul, 2008, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta : Kencana.
Sabri, M. Alisuf, 2001, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Sardiman, A.M., 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
_____________, 2001, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
_____________, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta.
Sobri, dkk., 2000, Pengelolaan Pendidikan, Yogyakarta : Multi Pressindo.
Sudijono, Anas, 1997, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : CV. Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Sy, 2005, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Surya, Mohammad, 2004, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung : Pustaka Bani Quraisy.
Syah, Muhibbin, 2003, Psikologi Belajar, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Tohirin, 2008, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Uno, B. Hamzah, 2008, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara.
Artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
Islam adalah syariat Allah yang diturunkan kepada umat manusia di muka bumi agar dapat beribadah kepadanya. Pendidikan Islam merupakan kebutuhan manusia, karena sebagai makhluk pedagogis manusia dilahirkan dengan membawa potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi.
Akal merupakan salah satu potensi yang diberikan Allah kepada manusia dan merupakan pembeda dengan makhluk lainnya. Oleh karena itulah manusia menjadi makhluk yang paling mulia di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Isra: 70
Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al-Isra: 70)
Manusia sebagai makhluk yang paling mulia sebagaimana tersebut tidak akan menjadi mulia begitu saja, akan tetapi harus ada yang membina, memimpin dan mengarahkannya. Perbuatan itu adalah proses belajar dalam suatu lembaga pendidikan.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi di dalam satu situasi, bahkan dalam satu ruang hampa. Situasi belajar ini ditandai dengan motif- motif yang ditetapkan dan diterima oleh siswa. Terkadang satu proses belajar tidak dapat mencapai hasil maksimal disebabkan karena ketiadaan kekuatan yang mendorong ( motivasi ).
Dari proses belajar mengajar ini akan diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut hasil pengajaran, atau dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar.
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dalam proses tersebut siswa tidak hanya sekedar menerima dan menyerap informasi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa dapat melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran dan tindakan paedadogis yang harus dilakukan, agar hasil belajarnya lebih baik dan sempurna. Dari proses pembelajaran tersebut siswa dapat menghasilkan suatu perubahan yang bertahap dalam dirinya, baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan tersebut terlihat dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru.
Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat besar peranannya terhadap prestasi belajar. Karena dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Bagi siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan motivasi, sebab hasil belajar itu akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Karenanya, bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini bukanlah semata-mata kesalahan siswa, tetapi mungkin saja guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa.
Perhatian siswa terhadap stimulus belajar dapat diwujudkan melalui beberapa cara seperti penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan pertanyaan kepada siswa, membuat variasi belajar pada siswa, melakukan pengulangan informasi yang berbeda dengan cara sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk lain sehingga siswa tidak bosan. Dan ada beberapa motivasi yang digunakan guru terhadap bahan pelajaran agar siswa tidak merasa bosan, seperti : memberikan hadiah, pujian, gerakan tubuh, memberikan angka atau penilaian, memberikan tugas dan hukuman. Motivasi yang kuat dalam diri siswa akan meningkatkan minat, kemauan dan semangat yang tinggi dalam belajar, karena antara motivasi dan semangat belajar mempunyai hubungan yang erat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sardiman A.M dalam bukunya Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar bahwa :
"Dalam kegiatan belajar, maka motivasi menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai."
Motivasi sangat berperan dalam belajar, dengan motivasi inilah siswa menjadi tekun dalam proses belajar mengajar, dan dengan motivasi itu pula kualitas hasil belajar siswa dapat diwujudkan dengan baik. Siswa yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas akan tekun dan berhasil dalam belajarnya.
Tingginya motivasi dalam belajar berhubungan dengan tingginya prestasi belajar. Bahkan pada saat ini kaitan antara motivasi dengan perolehan dan atau prestasi tidak hanya dalam belajar.
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari, bahwa idealnya siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi pada bidang studi Pendidikan Agama Islam akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi, sedangkan siswa yang mempunyai motivasi yang kurang pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka prestasi belajarnya akan rendah atau kurang. Namun dari hasil wawancara penulis dengan guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, terdapat siswa yang motivasinya tinggi pada bidang studi Pendidikan Agama Islam akan tetapi prestasi belajarnya masih tergolong rendah.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul : "HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Studi Kasus pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon)".
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
a. Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian dalam proposal skripsi ini adalah tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan empirik berdasarkan pengamatan di lapangan.
c. Jenis Masalah
Jenis masalah dalam penelitian ini adalah korelasional, yaitu hubungan antara motivasi siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari, dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
2. Pembatasan Masalah
Agar masalah dalam penelitian ini tidak menyimpang dari apa yang diteliti, maka penulis membatasi penelitian ini pada masalah: Hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam ( Studi Kasus pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon).
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, rumusan masalah yang diteliti adalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah motivasi siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
b. Bagaimanakah prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
c. Bagaimanakah hubungan antara motivasi siswa dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Losari ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk memperoleh data tentang motivasi siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
b. Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
c. Untuk memperoleh data tentang hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
D. Kerangka Pemikiran
Pendidikan Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam. (Kurikulum PAI, 3 : 2003).
Azizy (2002) mengemukakan bahwa esensi pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai, pengetahuan, dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda agar generasi muda mampu hidup. Oleh karena itu, ketika kita menyebut pendididkan Islam, maka akan mencakup dua hal yaitu:
a. Mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam.
b. Mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam – subjek berupa pengetahuan tentang ajaran Islam.
Mata pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup al-Qur’an dan al-Hadits, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).
Mengajar merupakan suatu kegiatan inti dalam proses pendidikan di sekolah, dalam kegiatannya tidak terlepas dari kegiatan belajar yang dikenal dengan istilah lain proses belajar mengajar.
Keterangan tersebut diatas, sesuai dengan pendapat Muhammad Ali (1987 : 1 ), bahwa :
“ Inti dari pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pembelajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu, mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga dalam peristilahan kependidikan kita mengenal ungkapan belajar atau disingkat dengan KBM”.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, termasuk pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah dan madrasah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai peserta didik.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar.
Dari proses belajar mengajar terlebih dahulu harus adanya motivasi di dalam diri peserta didik sehingga dari motivasi yang tinggi tersebut akan memperoleh hasil atau prestasi belajar yang tinggi pula.
Menurut Mc. Donald, yang di kutip oleh Sardiman. A.M motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Supardi dan Syaiful Anwar (2002) mengartikan motivasi adalah keadaan dalam diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Sedangkan menurut Hamzah. B. Uno motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Atau dengan kata lain motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu. Motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang di inginkan dapat tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perananannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi belajar suatu mata pelajaran tertentu. Selain itu juga motivasi berfungsi untuk mendorong manusia untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, untuk mencapai tujuan dan menyeleksi perbuatan yakni perbuatan mana yang akan dikerjakan.
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dalam hal ini perilaku belajar yang terjadi dalam suatu interaksi belajar-mengajar dalam mencapai tujuan dan hasil belajar. Motivasi mempunyai karakteristik : (1) sebagai hasil dari kebutuhan, (2) terarah kepada suatu tujuan, (3) menopang perilaku. Motivasi dapat dijadikan dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku seseorang. Motif timbul timbul karena adanya kebutuhan yang mendorong individu untuk melakukan tindakan yang terarah kepada suatu tujuan.
Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka motivasi belajar siswa memiliki kaitan yang sangat erat dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Hal ini menjadi pendorong bagi siswa dalam proses belajar mengajar pada bidang studi tertentu guna tercapainya tujuan yang diinginkan.
E. Langkah-langkah Penelitian
1. Menentukan Sumber Data
a. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui sejumlah buku dan literature lainnya yang ada hubungannya dengan judul skripsi, yaitu prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk dijadikan rujukan.
b. Data Primer
Data primer diperoleh melalui Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan staf tata usaha disamping itu pula siswa, book raport, Observasi, wawancara, studi dokumentasi dan penyebaran angket motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon ada 800 siswa, terdiri dari kelas VII = 285 siswa, kelas VIII = 270 siswa dan kelas IX = 245 siswa.
b. Sampel
Dari jumlah seluruh siswa yang ada peneliti mengambil sampel 10 % dari jumlah siswa untuk dijadikan sampel, dengan demikian, maka sampelnya adalah 80 orang siswa. Pedoman mengambil sampel merujuk pendapat Suharsimi Arikunto (1989 : 52), yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjek kurang dari 100 maka dapat diambil semua sehingga sampelnya totalitas. Selanjutnya jika subjeknya itu lebih dari 100 dapat diambil 10% - 15% atau 20% - 25% tergantung kemampuan peneliti, agar lebih mudah dalam menghitung jawaban responden.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Teknik observasi dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data fisik dan non fisik, yaitu tentang motivasi dan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon.
b. Wawancara
Teknik Wawancara dilakukan dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan responden, seperti Kepala Sekolah, guru agama, guru-guru, siswa dan staf tata usaha.
c. Studi Dokumentasi
Teknik studi dokumentasi dilakukan dengan mencatat peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk dokumen seperti keadaan guru-guru, siswa dan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ditempuh melalui staf tata usaha dan guru-guru terutama guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
d. Angket
Teknik angket dilakukan dengan menyebarkan daftar pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia, diberikan kepada 80 siswa sebagai responden.
4. Teknik Analisis Data
a. Analisis Kualitatif
Untuk jenis data kualitatif yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dianalisis dengan menggunakan kualitatif. Yaitu dilakukan dengan mencatat peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk dokumen seperti keadaan guru-guru, siswa dan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Analisis Kuantitatif
Untuk jenis data kuantitatif yang diperoleh melalui penyebaran angket dianalisis dengan mengggunakan metode kuantitatif. Yaitu tentang motivasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Losari.
Untuk mengolah data dari tabel hasil angket dalam bab IV, penulis menggunakan rumus prosentase sebagai berikut :
Keterangan : P = Prosentase kemungkinan jawaban
F = Frekuensi jawaban responden
N = Jumlah responden
100% = Bilangan tetap ( Anas Sudijono, 2004 : 43 )
Sedangkan untuk menghitung atau menilai besar kecilnya perhitungan skala prosentase digunakan ketentuan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto ( 2000 : 52 ), yaitu :
No Prosentase Kriteria
1 75% - 100% Baik
2 55% - 74% Cukup
3 40% - 54% Kurang baik
4 0% - 39% Tidak sekali
Setelah diketahui besar kecilnya skala prosentase kemudian diadakan penilaian sikap dengan bobot nilai dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jawaban a (baik sekali) dengan skor = 3
2. Jawaban b (baik) dengan skor = 2
3. Jawaban c (sedang) dengan skor = 1
4. Jawaban d (tidak baik) dengan skor = 0
Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut :
Keterangan :
rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment
Σxy = Jumlah hasil perkalian antara X dan Y
Σx2 = Jumlah skor X setelah terlebih dahulu dikuadratkan
Σy2 = Jumlah skor Y setelah terlebih dahulu dikuadratkan
( Suharsimi Arikunto, 1998 : 256 )
Dari hasil perhitungan korelasi diatas, maka diinterpretasikan dengan menggunakan ketentuan sebagai berikut :
Tabel Interpretasi Nilai "r"
Besarnya “r” Product Moment Interpretasi
0,00 – 0,199 Antara variabel X dan variabel Y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi tersebut diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan Y)
0,20 - 0,399 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah
0,40 - 0,599 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup
0,60 - 0,799 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi
0,80 - 1,000 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi.
(Sugiyono, 2007 : 184 )
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 2004, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta.
Imran, 1996, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Pustaka Jaya.
Majid, Abdul, dkk., 2005, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi : (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Nasution, 2004, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara.
Rahman, Shaleh, Abdul, 2008, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta : Kencana.
Sabri, M. Alisuf, 2001, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Sardiman, A.M., 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
_____________, 2001, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
_____________, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta.
Sobri, dkk., 2000, Pengelolaan Pendidikan, Yogyakarta : Multi Pressindo.
Sudijono, Anas, 1997, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : CV. Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Sy, 2005, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Surya, Mohammad, 2004, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung : Pustaka Bani Quraisy.
Syah, Muhibbin, 2003, Psikologi Belajar, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Tohirin, 2008, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Uno, B. Hamzah, 2008, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara.
Rabu, 03 Maret 2010
Kita hanya menjadi siap untuk hal-hal yang kita siapkan
Kita hanya menjadi siap untuk hal-hal yang kita siapkan. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang pantas menjadi pribadi yang damai, dan berpengaruh bagi orang lain....
Senin, 01 Februari 2010
Jumat, 29 Januari 2010
Jangan Paksa Orang Untuk Berubah. Berubah Itu Sulit.
Jangan paksa orang untuk berubah. Berubah itu sulit.
Berkasih sayanglah.
Perubahan itu tidak mudah, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup.
Lebih mudah meneruskan apa adanya, walau pun tidak mudah hidup dalam kesulitan.
Maka jangan ganggu dia yang sulit berubah, walau pun itu untuk kebaikannya sendiri.
Biarkanlah dia mengutamakan yang mudah sekarang, karena dia tidak keberatan dengan kesulitannya.
Berubah untuk kebaikan itu sulit, lebih mudah untuk meneruskan kelemahan hidup.
Maka, lebih berkasih-sayanglah.
Berkasih sayanglah.
Perubahan itu tidak mudah, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup.
Lebih mudah meneruskan apa adanya, walau pun tidak mudah hidup dalam kesulitan.
Maka jangan ganggu dia yang sulit berubah, walau pun itu untuk kebaikannya sendiri.
Biarkanlah dia mengutamakan yang mudah sekarang, karena dia tidak keberatan dengan kesulitannya.
Berubah untuk kebaikan itu sulit, lebih mudah untuk meneruskan kelemahan hidup.
Maka, lebih berkasih-sayanglah.
Rabu, 20 Januari 2010
Kata Bijak Hari Ini...
SCIENCE WITHOUT RELIGION IS LAME.
RELIGION WITHOUT SCIENCE IS BLIND.
Pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh.
Agama tanpa pengetahuan adalah buta.
Albert Eistein
RELIGION WITHOUT SCIENCE IS BLIND.
Pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh.
Agama tanpa pengetahuan adalah buta.
Albert Eistein
Selasa, 19 Januari 2010
Mata Itu....

kulihat mata itu
begitu dalam .. masuk ke dalam hatiku
tatapannya panjang ..
seakan hendak berkata ..
Adakah kamu baik baik saja?
Dan aku terperangah ..
menatap kembali pandangan yang tertuju dengan indahnya
dan mulai merasakan kesejukan diantaranya
dan aku mampu selamanya menatapnya ..
Dan aku terdiam ..
seakan tak ingin membiarkan waktu berlari cepat.
tak ingin pula tersenyum ..
Hanya diam tanpa suara, memandangnya ..
Dia membaca hatiku ..
dan fikiranku ..
Ketika waktu terburuk datang menghampiri ..
Ia kembali untukku ..
Dengan sedikit senyum yang ia berikan,..
ia adalah ketampanan yang bersahaja
dan aku merasa aman bersamanya ..
dalam genggamannya ..
**inspired when seeing the twilight movie.
Langganan:
Postingan (Atom)